Pengukuran Massa,Gaya dan Torka
PENGUKURAN
BESARAN FISIKA UNTUK MASSA,GAYA DAN TORKA
( Makalah Metode Pengukuran dan Instrumentasi)
Oleh
1. Lina
Afriliani 1517041003
2. Reyhan
Isyatyadi 1517041003
3. Okta
Ferli Suryadi 1517041003
4. Indah
Pratiwi 1517041003
5. Rianggi
Wahyu P.

JURUSAN
FISIKA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2017
DAFTAR
ISI
Halaman
Halaman
Judul............................................................................................................................ i
Daftar
Isi..................................................................................................................................... ii
Daftar
Gambar.......................................................................................................................... iii
Kata
Pengantar.......................................................................................................................... iv
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang............................................................................................................. 1
1.2 Tujuan........................................................................................................................... 2
1.3 Ruang
Lingkup ............................................................................................................ 2
BAB
II LANDASAN TEORI
2.1 Pengukuran................................................................................................................... 3
2.2 Alat Ukur Besaran Massa............................................................................................. 5
2.3 Pengertian Gaya........................................................................................................... 7
2.3 Pengukuran Torka......................................................................................................... 8
BAB
III PEMBAHASAN......................................................................................................... 9
BAB
IV KESIMPULAN
4.1
Kesimpulan.................................................................................................................. 23
4.2
Saran............................................................................................................................ 23
Daftar
Pustaka
ii
DAFTAR
GAMBAR
Halaman
Gambar
1. Neraca
dua lengan beserta anak timbangan atau beban standarnya....... 10
Gambar
2 . Neraca Ohaus........................................................................................ 11
Gambar
3 . Neraca elektronik atau neraca digital.................................................... 11
Gambar
4 . Sensor load cell..................................................................................... 12
Gambar
5 . Sensor akselerometer............................................................................. 14
Gambar
6 . Datasheet sensor akselerometer ADXL335.......................................... 15
Gambar
7 . Sistem koordinat bola............................................................................ 16
Gambar
8 . Gaya normal yang bekerja pada suatu benda........................................ 16
Gambar
9 . Tactile sensor......................................................................................... 17
Gambar
10 . Konsep torsi........................................................................................ 18
Gambar 11. Susunan peralatan untuk pengukuran torsi
dan daya.......................... 19
Gambar
12. Sistem pengukuran torsi berbasis optic................................................ 20
Gambar
13 . Simbol dan tabel logika gerbang XOR............................................... 20
Gambar
14. Keluaran detektor pulsa gerbang XOR pada kondisi tanpa torsi........ 21
Gambar 15. Keluaran detektor pulsa gerbang XOR pada
kondisi diberikan torsi yang kecil (beda fasa 20 ms)................................................................................................................................. 22
Gambar
16. Keluaran detektor pulsa gerbang XOR pada kondisi diberikan torsi yang lebih
besar (beda fasa 42 ms)..............................................................................................................................
iii
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penyusun kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya yang telah
memberikan kami kemudahan dalam menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul
“ Pengukuran Besaran Fisika Untuk Massa,Gaya dan Torka ”, untuk itu kami
sampaikan rasa terima kasih kepada :
1. Bapak
Arif Surtono.,S.Si.,M.Si.,M.Eng selaku dosen mata kuliah Metode Pengukuran dan
Instrumentasi.
2. Kelompok
7 yang telah membantu menyelesaikan makalah ini
3. Serta
teman-teman yang membantu dalam pembuatan makalah ini baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Harapan
kami makalah ini dapat memberi manfaat umumnya untuk semua mahasiswa dan
khususnya untuk Mahasiswa Fisika. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kesalahan serta kekurangan oleh karena itu kritik dan saran
penulis harapkan untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.
Bandar Lampung, 07 Januari 2017
Penyusun
Iv
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
perkuliahan terkhusus dalam jurusan Fisika pengukuran merupakan hal yang
penting dan bersifat mendasar. Mengukur menjadi kegiatan yang sering dilakukan
oleh mahasiswa Fisika untuk mempelajari berbagai fenomena yang akan dipelajari.
Dalam kegiatan di Laboratorium Fisika banyak mahasiswa belum mengetahui
mengenai pengukuran seperti untuk pengukuran massa, gaya serta torka dan cara
pengukuran ataupun jenis-jenis pengukuran atau hal lainya yang mengenai pengukuran.
Banyak mahasiswa yang masih bingung mengenai pengukuran karena ada beberapa
mahasiswa yang belum mengetahui tentang hal tersebut sehingga beberapa
mahasiswa ketika diberi penjelasan mengenai pengukuran seperti terdengar asing.
Pengukuran merupakan kegiatan sederhana,yang penting
dalam kehidupan atau kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain
sejenis yang dipergunakan sebagai satuanya. Satuan merupakan pembanding di
dalam pengukuran. Pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain
yang dianggap sebagai patokan. Jadi dalam pengukuran ini terdapat dua factor
yaitu perbandingan dengan standar.
Mengukur adalah membandingkan suatu proses
membandingkan suatu besaran yang dapat
diukur dengan sesuatu yang dapat di ukur kemudian hasilnya dinyatakan dengan
angka-angka yang dinamakan dengan besaran. Besaran dalam Fisika di bagi menjadi
dua yaitu besaran pokok dan besaran turunan,yang termasuk dalam besaran seperti
panjang,massa,waktu,suhu dan arus listrik dan yang termasuk dalam besaran turunan
adalah luas,volume,massa jenis ,kecepatan dan gaya. Dalam makalah ini akan
menjelaskan mengenai besaran pokok dan turunan yang dikhususkan untuk
pengukuran Massa,gaya dan Torka Agar mahasiswa lebih paham mengenai hal
tersebut.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai
berikut :
1.
Mengetahui Hubungan antara pengukuran
Massa,Gaya dan Torka.
2.
Mengetahui penggunaan pengukuran Massa.
3.
Mengetahui penggunaan pengukuran Gaya.
4.
Mengetahui penggunaan pengukuran Torka.
1.3
Ruang Lingkup
Adapun
ruang lingkup dalam makalah ini yaitu untuk mengetahui hubungan massa,gaya dan
torsi serta prinsip kerjanya dalam suatu alat.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1 Pengukuran
Pengukuran merupakan
kegiatan sederhana,yang penting dalam kehidupan atau kegiatan membandingkan
suatu besaran dengan besaran lain sejenis yang dipergunakan sebagai satuanya.
Mengukur adalah membandingkan satu besaran dengan besaran lain yang sejenis yang telah diterapkan sebagai
satuan. Pengukuran pada umumnya memerlukan alat ukur baik itu berupa
mistar,hasta,depa dan sebagainya. Pada zaman dahulu manusia menggunakan bagian
tubuh untuk mengukur panjang suatu benda. Akibatnya dikenal dengan istilah
hasta,depa dan jengkal sebagai satuan panjang. Di Inggris satuan depa adalah
fathom yang sampai saat ini masih digunakan untuk mengukur kedalaman laut. Pada
Ilmu kimia
Satuan merupakan ukuran
perbandingan yang telah disepakati (SI). Tujuan setiap orang ketika mengukur
adalah untuk mendapatkan benar dan tercapai,karena alat ukur yang digunakan
untuk memiliki tingkat ketelitian terbatas. Hal yang dapat dicapai adalah untuk
memperoleh hasil ukur yang boleh jadi benar. Kebanyakan pengukuran yang
dilakukan di Laboratorium disederhanakan sedemikian rupa sehingga pada dasarnya
merupakan pengukuran dengan jarak. Dengan pengukuran yang menggunakan besaran
akan kita peroleh besaran yang diinginkan (Arisworo, 2006).
2.2
Alat Ukur Besaran Massa
Alat
ukur besaran massa adalah neraca. Neraca dilengkapi dengan anak timbangan
sebagai pembanding. Beberapa neraca yang banyak digunakan diantaranya adalah
sebagai berikut :
1.
Neraca Pasar ( Neraca Platform)
Jenis
neraca ini banyak digunakan diPasar Tradisional . Neraca ini digunakan untuk
menimbang kebutuhan pokok rumah tangga seperti minyak,gula,sayur mayor dan
lain-lain. Cara menggunakanya adalah dengan meletakan benda yang akan ditimbang
di salah satu timbangan. Pada posisi timbangan lainya,diletakan beberapa anak
timbangan sehingga terjadi posisi yang sama antar kedua timbangan. Apabila posisi
timbangan telah seimbang maka massa benda dapat diketahui dengan menghitung
jumlah massa anak timbangan disalah satu timbangan.
2.
Neraca Analitis
Neraca
Analitis banyak digunakan penjual emas dilaboratorium. Cara pemakaianya serupa
dengan neraca pasar yaitu benda yang akan diukur massanya diletakan
ditimbangan. Pada piring timbangan lainya diletakan anak timbangan sehingga
terjadi posisi yang seimbang.
3.
Neraca Tiga Lengan
Digunakan
untuk menimbang benda-benda di laboratorium dengan batas pengukuran neraca 500
gram sampai 1.000 gra. Cara menngunakanya
Dengan
menggeser-geser penunjuk skala pada tiga lengan sehingga tercapai keseimbangan
().
2.3
Pengertian gaya
Gaya
adalah suatu besaran yang menyebabkan benda bergerak. Gaya mengakibatkan
perubahan-perubahan sebagai berikut :
a. Benda
diam menjadi bergerak
b. Benda
bergerak menjadi diam
c. Bentuk
dan ukuran benda berubah
d. Arah
gerak benda berubah
Berdasarkan
Hukum Newton II “ massa benda dipengaruhi gaya luar yang berbanding terbalik
dengan percepatan gerak benda tersebut “ secara matematis ditulis :
F= m.a
Dimana, m= massa(Kg)
a= percepatan(m/dt2)
F= Kg.m/dt2= N(newton)
Berdasarkan
penyebabnya, gaya dikelompokan sbagai berikut :
a. Gaya
mesin, yaitu gaya yang berasal dari mesin
b. Gaya
magnet, yaitu gaya yang berasl dari sebuah magnet
c. Gaya
gravitasi, yaitu gaya tarik yang diakibatkan oleh bumi
d. Gaya
pegas, yaitu gaya yang ditimbulkan oleh pegas
e. Gaya
listrik, yaitu gaya yang ditimbulkan oleh muatan listrik
Berdasarkan
sifatnya gaya dikelompokkan menjadi :
a. Gaya
sentuh, yaitu gaya yang ditimbulkan karena titik kerja gaya langsung
bersentuhan dengan benda.
b. Gaya
tak sentuh, yaiyu gaya walaupun titik kerja gaya tidak bersentuhan langsung
dengan benda (wahyudi, 2016).
2.4 Pengukuran Torka
Dalam
gerak rotasi, penyebab berputarnya benda merupakan momen gaya atau torsi. Momen
gaya atau torsi sama dengan gaya pada gerak translasi. Momen gaya (torsi)
merupakan sebuah besaran yang menyatakan besarnya sebuah gaya yang bekerja paa
sebuah benda sehingga mengakibatkan benda tersebut berotasi. Besarnya momen
gaya (torsi) tergantung pada gaya yang dikeluarkan serta jarak antara sumbu
putaran dan letak gaya. Apabila anda ingin membuat sebuah benda berotasi,anda
harus memberikan momen gaya pada benda tersebut. Torsi disebut juga momen gata
dan merupakan besaran vector. Torsi adalah ukuran kemampuan mesin untuk
melakukan kerja, jadi torsi adalah suatu energy. Besaran torsi adalah besaran
turunan yang biasa digunakan menghitung energy yang dihasikan dari benda yang
berputar pada porosnya. Adapun perumusan dari torsiah adalah sebagai berikut.
Apabila sebuah benda berputar dan mempunyai besar gaya sentry fugal sebesar F,
benda berputar pada porosnya dengan jari-jari sebesar b, dengan data tersebut
torsinya adalah :
T = F x d (N.m)
Dimana
:
T
= Torsi benda berputar (N.m)
F
= gaya sentrifugal dari benda yang berputar (N)
D
= jarak benda ke pusat rotasi (m)
Karena
adanya torsi inilah yang mengakibatkan benda berputar trhadap porosnya, dan
benda akan berhenti apabila ada usaha melawan torsi dengan besar sama denganaah
yang brlawanan. Pada motor bakar untuk mengetahui daya poros harus diketahui
dulu torsinya. Pengukuran torsi pada poros motor bakar menggunakan alat yang
dinamakan Dinamometer. Prinsip kerja pada alat ini adalah dengan member beban
yang berlawanan terhadap arah putaran sampai putaran menekati 0 rpm, beban ini
nilainya sama dengan torsi poros.

Gambar
1. Dinamometer
Dapat
dilihat dari gambar diatas adalah prinsif dasar dari dinammeter. Dari gambar
dapat didilihat pengukuran torsi pada poros (rotor) dan dengan prinsif
pengereman stator yang dikenai beban sebesar w.
Mesin dinyalakan kemudian pada poros disambungkan dengan dynamometer.
Untuk mengukur torsi mesin pada poros mesin diberi rem yang disambungkan dengan
w pengereman atau pembebanan. Pembebanan diteruskan sampai poros mesin
hampirberhenti berputar. Beban maksimum yang terbaca adalah gaya pengereman yang besarnya sama dengan
gaya putar poros mesin F. Dari definisi disebutkan bahwa perkalian antara gaya
dengan jaraknya adalah sebuah torsi. Dengan definisi tersebut torsi pada poros
dapat diketah dengan rumus :
T = w x d (Nm)
Dengan
:
T
= adalah torsi mesin (Nm)
W
= Beban (N)
w
(beban/berat) berbeda dengan massa (m), jika massa satannya kg, adapun beban
disini adalah gaya berat dengan satuan N yang diturunkan dari W=mxg. Pada mesin
sebenarnya pembebanan adalah komponen-komponen mesin sendiri yaitu asesoris
mesin ( pompa air, pompa pelumas, dan kipas radiator), generator listrik
(pengisian aki, listrik penerangan, penyalaan busi), gesekan mesin dan komponen lainnya. Dari perhitungan torsi
diatas dapat diketahui jumlah energy yang dihasilkan mesin pada poros. Jumlah energy yang dihasilkan mesin pada
setiap waktunya adalah yang disebut dengan daya mesin. Dan energy yang diukur
pada poros mesin dayanya disebut daya poros. Torsimeter adalah alat pengukur
torsi yang biasa dipakai untuk mengukur torsi pada alat pemutar sekrup (screw
driver). Torsi pada alat pemutar sekrup perlu dibatasi agar ulir pada sekrup aus
akibat pemakaian torsi yang berlebihan (Flowles. 2005.
III. PEMBAHASAN
Massa,
gaya, dan torsi merupakan tiga besaran dalam fisika yang saling berkaitan.
Besarnya gaya dipengaruhi oleh massa suatu objek yang mengalami atau melakukan
percepatan, misalnya gaya dorong yang dihasilkan mesin mobil yang menyebabkan
mobil dapat melaju, dan besarnya torsi dipengaruhi oleh gaya yang bekerja pada
lengan dari objek, misalnya saat kita memutar gagang pintu.
Dari
tiga ini, besaran yang paling mendasari adalah massa, yang juga merupakan satu
dari tujuh besaran pokok dalam fisika. Massa didefinisikan sebagai kuantitas kelembaman
yang terukur pada suatu benda pada keadaan diam, dan memiliki satuan kilogram
(kg) atau gram (gr). Selain itu dikenal juga istilah massa jenis atau rapat
massa per satuan volume (
). Dari definisi
tersebut,
Bila
massa jenis suatu benda atau zat sudah diketahui, massa benda atau zat tersebut
dapat langsung diketahui dengan cara mengukur volumenya. Misalnya, diketahui bahwa
massa jenis air (asumsi di sini adalah air biasa/tawar) adalah 1 gr/cm3,
dengan 1 cm3 = 1 ml (mililiter). Ketika seandainya anda diberi
instruksi dalam praktikum untuk menyiapkan 200 gram air, padahal di tempat
praktikum tersebut tidak tersedia neraca melainkan hanya ada sebuah gelas ukur,
anda tetap dapat melakukan instruksi tersebut dengan menyiapkan air sebanyak
Namun
bagaimana jika massa jenis suatu benda yang akan diukur massanya tidak
diketahui? Menggunakan cara tidak langsung seperti contoh sebelumnya jelaslah
tidak efektif. Dengan demikian digunakanlah metode pengukuran langsung
menggunakan alat ukur massa. Salah satu alat ukur massa yang sangat mudah
dijumpai bahkan sangat sering digunakan adalah neraca atau timbangan.

Gambar 1. Neraca dua lengan
beserta anak timbangan atau beban standarnya
Gambar
di atas merupakan neraca dua lengan yang dilengkapi dengan anak timbangannya,
di mana masing-masing anak timbangan sudah diketahui massanya. Prinsip kerja
dari neraca jenis ini adalah keseimbangan kedua lengan neraca, di mana benda
yang akan diukur diletakkan pada wadah di salah satu lengan neraca dan anak
timbangan diletakkan pada wadah di lengan neraca lainnya. Neraca akan dalam
keadaan setimbang (posisi lengan akan lurus secara horizontal) jika kedua berat
benda sama,
Pengukuran
massa yang lebih teliti dapat dilakukan dengan neraca Ohaus, yaitu neraca yang
memiliki prinsip serupa dengan neraca dua lengan yang umum, namun salah satu
lengannya telah dgantikan dengan lengan berskala yang memiliki anak timbangan
yang dapat digeser.

Gambar 2 .
Neraca Ohaus
Cara
yang lebih modern adalah menggunakan neraca elektronik atau lebih dikenal
dengan neraca digital. Neraca elektronik merupakan neraca yang menggunakan
rangkaian dan alat-alat elektronik (khususnya rangkaian digital) untuk mengukur
suatu massa. Gambar berikut merupakan salah satu contoh dari neraca digital.

Gambar 3 .
Neraca elektronik atau neraca digital
Komponen
utama dari neraca digital adalah sensor yang berfungsi mengubah nilai yang
berupa besaran massa ke nilai besaran listrik, bisa berupa tegangan, kuat arus,
ataupun tahanan listrik. Sensor yang umum digunakan adalah sensor load cell. Load cell memiliki sebuah elemen elastis yang akan mengalami
pergeseran (displacement) ketika ada
gaya yang mengenai elemen tersebut. Gaya tersebut tidak lain adalah gaya berat
dari benda yang akan diukur massanya. Dengan demikian massa benda tersebut
dapat diketahui dari besarnya pergeseran (displacement)
tersebut.
Sensor
load cell memiliki kelebihan dibandingkan dengan sensor-sensor jenis lain
diantaranya: biaya produksi yang murah; jangkauan pengukuran yang lebar;
toleransi yang tinggi terhadap ruangan yang bersifat korosif dan berdebu; dapat
digunakan dalam pengukuran jarak jauh; ketahanan terhadap shock loading atau meletakkan benda yang berat secara tiba-tiba
yang mungkin dapat menyebabkan sensor mengalami kerusakan atau bahkan hancur;
dan kemudahan dalam pemasangan.
Kelemahan
dari sensor load cell sendiri adalah
elemen elastis dari load cell dapat
mengalami deformasi atau perubahan bentuk permanen setelah digunakan dalam
jangka waktu lama dengan pengukuran massa yang besar. Deformasi ini tentu akan
menimbulkan kesalahan pengukuran yang signifikan jika alat yang menggunakan
sensor load cell ini tidak dikalibrasi secara rutin. Load cell dapat digunakan untuk mengukur massa yang sangat besar
hingga ribuan sehingga banyak digunakan sebagai sensor pengukuran massa pada
jembatan timbang untuk mengukur massa mobil dan truk.

Gambar 4 .
Sensor load cell
Jika
suatu gaya dengan besar
diberikan kepada benda yang bermassa
, maka sesuai Hukum II
Newton benda akan bergerak dengan percepatan
sebesar:
Pengukuran
besar gaya sendiri sangat penting dalam ilmu fisika. Sebagai contoh, berat
suatu benda (
) merupakan besaran
yang terukur dari suatu benda bermassa
yang berada pada medan gravitasi
di mana:
Besarnya
kekuatan dorongan yang dihasilkan oleh mesin jet pada pesawat juga diukur
sebagai gaya dorong. Dalam biomekanika, force
plate sering digunakan untuk mempelajari gaya yang terlibat pada aktivitas
manusia seperti berjalan, berlari, dan lain-lain. Para ahli fisiologi dan
terapis menggunakan konsep gaya kontraktil yang dihasilkan oleh otot-otot di
bawah beragam kondisi fisiologis dan farmakologis. Perancang pesawat terbang
sangat memperhatikan tentang gaya angkat dan gaya tarikan pada bagian-bagian
vital pesawat seperti kerangka pesawat, sayap pesawat, dan lainnya. Namun tidak
ada sensor khusus yang dapat digunakan untuk mengukur gaya secara langsung,
dengan demikian untuk mengukur gaya biasanya digunakan kombinasi dari beberapa
sensor.
Untuk
mengukur besarnya gaya dorong atau gaya tarik, atau gaya berat benda secara
langsung, dapat menggunakan neraca pegas. Neraca pegas merupakan neraca yang
menggunakan pegas sebagai “sensor” untuk mengukur besarnya gaya yang dikenakan
pada pegas, yang besarnya sesuai dengan Hukum Hooke:
Namun
neraca pegas tidak dapat digunakan untuk mengukur gaya yang bekerja pada benda
yang bergerak. Untuk mengatasi hal ini, biasanya digunakan kombinasi sensor load cell untuk mengukur massa benda dan
sensor akselerometer untuk mengukur percepatan benda tersebut. Jika massa benda
hasil pengukuran dinyatakan sebagai
dan percepatan dinyatakan sebagai
, dapat ditentukan gaya
yang bekerja pada benda tersebut menggunakan Hukum II Newton:
Kebanyakan
sensor akselerometer memberikan keluaran pengukuran berupa percepatan relatif
terhadap percepatan gravitasi, bukan percepatan absolut.

Gambar 5 .
Sensor akselerometer
Bagaimanakah
kita bisa mendapatkan nilai percepatan yang kita perlukan dari akselerometer
seperti pada gambar di atas? Karena percepatan
relatif terhadap percepatan gravitasi
, dapat dituliskan
hubungannya sebagai:
Sebagai
contoh, diberikan cuplikan sebuah datasheet sensor akselerometer ADXL335 buatan
Analog Devices yang merupakan akselerometer 3-sumbu dengan jangkauan pengukuran
.

Gambar 6 .
Datasheet sensor akselerometer ADXL335
Dengan
demikian jangkauan pengukuran dari akselerometer ini adalah:
Selain
itu, dimungkinkan untuk mengukur gaya normal pada suatu benda yang berada pada
suatu permukaan dengan sudut kemiringan tertentu dengan menggunakan
akselerometer. Asumsi bahwa kita menggunakan koordinat bola. Pada koordinat
bola berlaku hubungan:

Gambar 7 .
Sistem koordinat bola
Misalkan
kita hendak mengukur besarnya gaya normal pada sebuah benda diam yang berada
pada bidang miring seperti pada gambar berikut,



Gambar 8 .
Gaya normal yang bekerja pada suatu benda
karena
benda diam terhadap arah vertikal, kita terapkan Hukum I Newton:
karena
tidak lain merupakan percepatan relatif benda
pada sumbu
,
, yang terukur oleh
akselerometer sehingga
Untuk
mengukur gaya yang berupa gaya sentuh, misalnya gaya dari seberapa kuat jari
kita menekan suatu permukaan, sensor yang digunakan adalah tactile sensor, di mana sensor ini akan mengukur besarnya gaya yang
terdistribusi pada suatu permukaan menggunakan susunan sensor-sensor gaya
(misalnya load cell) yang tersusun
dengan jarak yang rapat. Teknik “perabaan” seperti ini penting dalam
identifikasi objek. Identifikasi suatu objek dapat dilakukan dengan mengenali
bentuk, posisi, dan susunan dari objek, termasuk mengidentifikasi ciri-ciri
permukaan dan cacat pada objek. Secara ideal, tugas-tugas seperi ini membutuhkan:
1. Perabaan
oleh gaya sentuh secara kontinu
2. Melakukan
perabaan terhadap perubahan bentuk permukaan
Dua
tipe data ini secara umum berhubungan dengan efek tegangan-regangan dari sensor
tersebut. Sebagai hasilnya, dapat diperoleh perabaan variabel oleh sensor yang
hampir kontinu.

Gambar 9 .
Tactile sensor
Torsi,
kelajuan, dan daya merupakan variabel mekanis yang berhubungan dengan performa
fungsional dari suatu mesin yang berotasi. Kemampuan untuk mengukur ketiga
kuantitas ini secara akurat sangat diperlukan untuk menentukan efisiensi dari
mesin dan menghasilkan operasi kerja yang aman dan kondusif untuk pelayanan
yang lama dan handal. Pengukuran secara on-line
dari kuantitas torsi dapat dilakukan untuk kendali real-time, membantu memastikan konsistensi dari kualitas produk,
dan dapat memberikan peringatan dini dari masalah yang timbul. Pengukuran torsi
dan daya digunakan dalam pengujian rancangan muktahir dari mesin-mesin baru dan
dalam perancangan komponen-komponen mesin. Pengukuran torsi juga menyediakan
standar untuk mengontrol dan memverifikasi tingkat kekencangan dari banyak tipe
alat pengunci.
Torsi
sendiri merupakan momen gaya yang dihasilkan pada sebuah lengan momen dengan
panjang
yang diberikan gaya
seperti pada gambar berikut,

Gambar 10 .
Konsep torsi
di
mana besarnya torsi dapat dihitung dengan
di
mana dari persamaan tersebut dapat ditentukan satuan dari torsi yaitu Nm
(newton-meter).
Gambar
berikut merupakan susunan peralatan yang digunakan untuk pengukuran torsi dan
daya dari suatu sistem.

Gambar 11. Susunan peralatan
untuk pengukuran torsi dan daya
Secara
umum, torsi penggerak yang ditempatkan pada posisi tertentu (pada gambar di
atas berada pada posisi B), dihambat oleh torsi yang berlawanan yang dihasilkan
oleh peralatan lain pada posisi yang lain (posisi F). Torsi penggerak (seperti
motor listrik, motor diesel, dan lain-lainnya) dihubungkan melalui penghubung
C, wilayah transmisi D, dan penghubung tambahan E. Torsi pada B atau F
merupakan besaran yang akan diukur. Torsi-torsi ini dapat diukur secara tidak
langsung menggunakan besaran lain yang berkaitan seperti kuat arus listrik atau
tekanan fluida yang menjadi satu dengan pengoperasian dari peralatan penggerak
atau yang digerakkan, atau secara langsung dengan mengukur torsi reaksi pada A
atau G, atau torsi yang disalurkan melalui D.
Metode
pengukuran torsi yang sering digunakan pada saat ini adalah metode pengukuran
berbasis optik sejak perkembangan dari dioda laser dan sistem transmisi
fiber-optik. Contoh dari sistem pengukuran torsi berbasis optik ditunjukkan
pada gambar berikut:

Gambar 12.
Sistem pengukuran torsi berbasis optik
Dua
roda dengan setrip hitam-putih dipasang pada kedua ujung dari sumbu rotasi dan
diatur sedemikian rupa sehingga posisi setiap setrip sejajar pada kondisi tidak
ada torsi yang diberikan pada sumbu. Cahaya dari sumber berupa laser dioda
dipancarkan oleh sepasang kabel fiber-optik menuju kedua roda tersebut. Rotasi
dari kedua roda akan menghasilkan pulsa-pulsa pantulan cahaya laser yang
dikirim kembali ke penerima dengan pasangan kabel fiber-optik kedua. Pada
kondisi tanpa torsi, rentetan pulsa yang diterima akan memiliki fasa yang sama.
Ketika torsi diberikan, pantulan cahaya akan termodulasi. Pengukuran beda fasa
dari pulsa pantulan cahaya laser yang diterima memungkinkan untuk mengetahui
besarnya torsi tersebut. Adapun untuk mengukur beda fasa tersebut bisa
dilakukan secara digital menggunakan detektor fasa yang dibuat dari gerbang
XOR. Gerbang XOR merupakan gerbang logika yang menghasilkan logika keluaran 0
ketika semua logika masukan bernilai sama, baik 1 maupun 0. Selain itu, gerbang
XOR akan menghasilkan keluaran logika 1.

Gambar 13 .
Simbol dan tabel logika gerbang XOR
Ketika
sistem berada pada keadaan tanpa torsi, maka pulsa-pulsa pantulan akan memiliki
fasa yang sama, sehingga keluaran pada gerbang XOR akan bernilai 0. Gambar
berikut merupakan keluaran dari detektor fasa yang menggunakan gerbang XOR di
mana PULSA 1 menyatakan pulsa pantulan yang diterima dari gigi pertama, PULSA 2
menyatakan pulsa pantulan yang diterima dari gigi kedua, dan PENERIMA merupakan
keluaran dari detektor fasa (gerbang XOR).

Gambar 14. Keluaran detektor
pulsa gerbang XOR pada kondisi tanpa torsi
Ketika
torsi diberikan pada sumbu rotasi, maka akan terjadi perbedaan fasa antara
PULSA 1 dan PULSA 2. Gambar berikut merupakan keluaran detektor fasa ketika
terjadi torsi yang mengakibatkan beda fasa sebesar 20 ms (torsi kecil).

Gambar
15. Keluaran detektor pulsa
gerbang XOR pada kondisi diberikan torsi yang kecil (beda fasa 20 ms)
Terlihat
pada keluaran detektor (PENERIMA) terbentuk rentetan pulsa baru. Pulsa dengan
bentuk ini dinamakan dengan pulsa PWM (Pulse-Width
Modulation). Bagaimana jika torsi diperbesar? Berikut adalah gambar
keluaran detektor fasa ketika torsi pada sumbu diperbesar sehingga menghasilkan
beda fasa 42 ms:

Gambar 16.
Keluaran detektor pulsa gerbang XOR pada kondisi diberikan torsi yang lebih
besar (beda fasa 42 ms)
Duty cycle
(perbandingan antara durasi bagian HIGH dengan durasi bagian LOW dari pulsa)
PENERIMA menjadi lebih besar seiring dengan bertambahnya beda fasa. Dapat
dikatakan bahwa detektor fasa memberikan keluaran yang linear. Untuk mendapatkan
besarnya torsi yang terukur dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana,
yaitu mengambil keluaran pulsa PWM dari keluaran detektor kemudian menggunakan
LPF (low-pass filter) yang akan
mengubah pulsa PWM tersebut menjadi tegangan DC yang besarnya sebanding dengan
beda fasa masukan detektor, atau dalam kata lain besarnya torsi yang terukur.
Tegangan DC ini dapat digunakan oleh rangkaian pengolah sinyal atau, misalnya,
diumpankan ke ADC mikrokontroler untuk diolah sebagai besaran torsi yng terukur
dan kemudian mikrokontroler akan menampilkannya sebagai keluaran angka pada LCD
16x2.
BAB
IV
KESIMPULAN
4.2
Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada
makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.
Massa, gaya, dan torsi merupakan tiga
besaran dalam fisika yang saling berkaitan
2.
Untuk mengukur besarnya gaya dorong atau
gaya tarik, atau gaya berat benda secara langsung, dapat menggunakan neraca
pegas. Neraca pegas merupakan neraca yang menggunakan pegas sebagai “sensor”
untuk mengukur besarnya gaya yang dikenakan pada pegas.
3.
Torsi, kelajuan, dan daya merupakan
variabel mekanis yang berhubungan dengan performa fungsional dari suatu mesin
yang berotasi.
4.3
Saran
Adapun
saran dalam makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.
Mahasiswa lebih meningkatkan mutu bacaan
mengenai pengukuran
2.
Mahasiswa harus belajar mempraktekan
pengukuran di Laboratorium
3.
Dosen membantu serta memfasilitasi baik
peralatan maupun teori yang mendukung
DAFTAR
PUSTAKA
Arisworo, Djoko, dkk. 2006. Fisika Dasar Jakarta;
Grafindo Media Pratama.
Cassiday,Flowles. 2005 . Seventh Edition Analytical
Mechanics.United Stated of Amerika : The Maple Vail ManufacturingBook.
Comments
Post a Comment